sejarah khatolik
Kata Katolik berasal dari kata sifat bahasa Yunani, καθολικός (katholikos), artinya "universal".[1] Dalam konteks eklesiologi Kristen, kata Katolik memiliki sejarah yang kaya sekaligus beberapa makna. Bagi sebagian pihak, istilah "Gereja Katolik" bermakna Gereja yang berada dalam persekutuan penuh dengan Uskup Roma, terdiri atas Ritus Latin dan 22 Gereja Katolik Timur; makna inilah yang umum dipahami di banyak negara. Bagi umat Protestan, "Gereja Katolik" atau yang sering diterjemahkan menjadi "Gereja Am" bermakna segenap orang yang percaya kepada Yesus Kristus di seluruh dunia dan sepanjang masa, tanpa memandang "denominasi". Umat Gereja Ortodoks Timur, Gereja Anglikan, Gereja Lutheran dan beberapa Gereja Metodis percaya bahwa Gereja-Gereja mereka adalah katolik, dalam arti merupakan kesinambungan dari Gereja universal mula-mula yang didirikan oleh para rasul. Baik Gereja Katolik Roma maupun Gereja Ortodoks percaya bahwa Gerejanya masing-masing adalah satu-satunya Gereja yang asli dan universal. Dalam "Kekristenan Katolik" (Termasuk Komuni Anglikan), para uskup dipandang sebagai pejabat tertinggi dalam agama Kristen, sebagai gembala-gembala keesaan dalam persekutuan dengan segenap Gereja dan dalam persekutuan satu sama lain.[2] Katolik dianggap sebagai salah satu dari Empat Ciri Gereja. Ketiga ciri lainnya adalah Satu, Kudus, dan Apostolik,[3] sesuai Kredo Nicea tahun 381: "Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik."
Sabtu, 07 November 2009
Jumat, 06 November 2009
westlife - amazing
Follow me around just like a shadow I'll swim a never-ending ocean
Until you bring back your devotion
It's like I live a thousand lifetimes
Still looking for the one that feels right
See, moving on just isn't workingYou lit the fire that I'm burning
[Chorus]
And all I can do is protect it
A life for the sake of my pride
While all the others had me thinking we could be more than just amazing
I guess I'm holding on to my faith
A solid hope I'm heading your way
And crawling over is so tempting
We could be more than just amazing
[Chorus]
And all I can do is protect it
A life for the sake of my pride
While all the others had me thinking
We could be more than just amazing
[Bridge]
I couldn't see it
I must have believed a lie
If I admit it would you let me make it right
Is it all gone Oh no
[Chorus]
We could be more than just
we could be more than just amazing
And all I can do is protect it
A life for the sake of my pride
And all the others had me thinking
We could be more than just amazing
[Chorus]
And all I can do is protect it
A life for the sake of my pride
While all the others had me thinking
straight to the point of what I'm feeling
Oh we could be more than just amazing

** touch my hand **
Saw you from the stage
Something about the look in your eyes
Something about your beautiful face
In a sea of peopleThere is only you
I never knew what the song was about
But suddenly now I do
Trying to reach out to you, touch my hand
Reach out as far as you can
Only me, only you, and the band
Trying to reach out to you, touch my hand
Can't let the music stop
Can't let this feeling end
Cause if I do it'll all be over, I'll never see you again
Can't let the music stop
Until I touch your hand
Cause if I do it'll all be over, I'll never get the chance again
I'll never get the chance again
I'll never get the chance again
I see the sparkle of a million flashlights
A wonderwall of stars
But the one that's shining out so bright is the one right where you are
Trying to reach out to you, touch my hand
Reach out as far as you can
Only me, only you, and the band
Trying to reach out to you, touch my hand
Can't let the music stop
Can't let this feeling end
Cause if I do it'll all be over, I'll never see you again
Can't let the music stopUntil I touch your hand
Cause if I do it'll all be over, I'll never get the chance again
I'll never get the chance again
Saw you from the distance
Saw you from the stage
Something about the look in your eyes
Something about your beautiful face
Can't let the music stop
Can't let this feeling end
Cause if I do it'll all be over, I'll never see you again
Can't let the music stop
Until I touch your hand
Cause if I do it'll all be over, I'll never get the chance again
I'll never get the chance again
Can't let the music stop
Can't let this feeling end
Cause if I do it'll all be over, I'll never see you again
Can't let the music stop
Until I touch your hands
Cause if I do it'll all be over, I'll never get the chance again
I'll never get the chance again
Trying to reach out to you, touch my hand
Reach out as far as you can
Only me, only you, and the band
Trying to reach out to you, touch my handYeah, yeah, yeah

"crush"
I hung up the phone tonight
Something happened for the first time
Deep insideIt was a rush, what a rush
Cause the possibility
that you would ever feel the same wayAbout me
It's just too much, just too much
Why do I keep running from the truth
All I ever think about is youYou got me hypnotized, so mesmerized
And I just got to know
Do you ever think
When you're all alone
All that we can be
Where this thing can go
Am I crazy or falling in love
Is it real or just another crush
Do you catch a breath
When I look at you
Are you holding back
Like the way I do
Cause I'm tryin, tryin to walk away
But I know this crush aint goin away
Yeah, yeah yeah yeah
Goin awayYeah yeah yeah yeah
Has it ever cross you mind
When were hangin, spending time girl,Are we just friends
Is there more, is there more
See it's a chance we've gotta take
Cause I believe that we can make this into
Something that will last, last forever, forever
Do you ever thinkWhen you're all alone
All that we can be
Where this thing can go
Am I crazy or falling in loveIs it real or just another crush
Do you catch a breath
When I look at youAre you holding back
Like the way I doCause I'm tryin, tryin to walk away
But I know this crush aint goin awayYeah, yeah yeah yeah
Goin awayYeah yeah yeah yeahWhy do I keep running from the truth
All I ever think about is you
You got me hypnotized, so mesmerized
And I just got to know
Do you ever thinkWhen you're all alone
All that we can beWhere this thing can go
Am I crazy or falling in love
Is it real or just another crushDo you catch a breath
When I look at youAre you holding back
Like the way I do
Cause I'm tryin, tryin to walk away
But I know this crush aint goin away
Yeah, yeah, yeah, yeah
Goin awayYeah, yeah, yeah, yeah(Goin away yeah, yeah, yeah, yeah)
Do you ever think
When you're all alone
All that we can be
Where this thing can go(Goin away yeah, yeah, yeah, yeah)
Do you catch a breath
When I look at you
Are you holding back
Like the way I do
Senin, 02 November 2009
SILSILAH DAN TAROMBO SI RAJA BATAK
Bangsa Yang besar adalah bangsa yang melestarikan Kebudayaan.Berikut merupakan Silsilah/Tarombo Batak yang mungkin terlupakan seiring masuknya Budaya asing ke Bangsa Indonesia.SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:1. Guru Tatea Bulan2. Raja IsombaonGURU TATEA BULANDari istrinya yang bernama Si Boru Baso Bburning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :* Putra (sesuai urutan):1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)*Putri:1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).Tatea Bulan artinya “Tertayang Bulan” = “Tertatang Bulan”. Raja Isombaon (Raja Isumbaon)Raja Isombaon artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Bbatak dapat dibagi atas 2 golongan besar:1. Golongan Ttatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung.2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba.Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.PENJABARAN* RAJA UTIRaja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual etap berpusat pada Raja Uti.* SARIBURAJASariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu peremuan satunya lagi laki-laki).Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi “istrinya” di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si raja babiat. Di kemudian hari Si raja babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.SI RAJA LONTUNGPutra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu:* Putra:1.. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.2. Sinaga raja, keturunannya bermarga Sinaga.3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.4. Toga nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.* Putri :1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora.Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu.Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.SINAGADari Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu.PANDIANGANLahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja.NAINGGOLANLahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.SIMATUPANGLahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.ARITONANGLahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.SIREGARLlahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.* SI RAJA BORBORPutra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor.Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :1. Datu Dalu (Sahangmaima).2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.6. Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang.Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut :1. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat.2. Tinendang, Tangkar.3. Matondang.4. Saruksuk.5. Tarihoran.6. Parapat.7. Rangkuti.Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.Limbong Mulana dan marga-marga keturunannyaLimbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.SAGALA RAJAPutra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.SILAU RAJASilau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu:1. Malau2. Manik3. Ambarita4. GurningKhusus sejarah atau tarombo Ambarita Raja atau Ambarita, memiliki dua putra:I. Ambarita Lumban PeaII. Ambarita Lumban PiningLumban Pea memiliki dua anak laki-laki1. Ompu Mangomborlan2. Ompu Bona NihutaBerhubung Ompu Mangomborlan tidak memiliki anak/keturunan laki-laki, maka Ambarita paling sulung hingga kini adalah turunan Ompu Bona Nihuta, yang memiliki anak laki-laki tunggal yakni Op Suhut Ni Huta. Op Suhut Nihuta juga memiliki anak laki-laki tunggal Op Tondolnihuta.Keturunan Op Tondol Nihuta ada empat laki-laki:1. Op Martua Boni Raja (atau Op Mamontang Laut)2. Op Raja Marihot3. Op Marhajang4. Op Rajani UmbulSelanjutnya di bawah ini hanya dapat meneruskan tarombo dari Op Mamontang Laut (karena keterbatasan data. Op Mamontang Laut menyeberang dari Ambarita di Kabupaten Toba Samosir saat ini ke Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Hingga tahun 2008 ini, keturunan Op Mamontang laut sudah generasi kedelapan).Op Mamontang Laut semula menikahi Boru Sinaga, dari Parapat. Setelah sekian tahun berumah tangga, mereka tidka dikaruniai keturunan, lalu kemudian menikah lagi pada boru Sitio dari Simanindo, Samosir.Dari perkawinan kedua, lahir tiga anak laki-laki1. Op Sohailoan menikahi Boru Sinaga bermukim di Sihaporas Aek BatuKeturunan Op Sohailoan saat ini antara lain Op Josep (Pak Beluana di Palembang)2. Op Jaipul menikahi Boru Sinaga bermukin di Sihaporas BolonKeturunan antara lain J ambarita Bekasi, dan saya sendiri (www.domu-ambarita.blogspot.com atau domuambarita@yahoo.com)3. Op Sugara atau Op Ni Ujung Barita menikahi Boru Sirait bermukim di Motung, Kabupaten Toba Samosir.Keturunan Op Sugara antara lain penyanyi Iran Ambarita dan Godman AmbaritaTUAN SORIMANGARAJATuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.c. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon).Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon)Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya.Nai Ambaton mempunyai empat orang putra, yaitu:1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon.2. Tamba Ttua, keturunannya bermarga Tamba.3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W. Hutagalung):SIMBOLONLahir marga-marga Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi.TAMBALahir marga-marga Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabolak, Rumahorbo, Napitu.SARAGILahir marga-marga Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke.MUNTELahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging.Keterangan lain mengatakan bahwa Nai Ambaton mempunyai dua orang putra, yaitu Simbolon Tua dan Sigalingging. Simbolon Tua mempunyai lima orang putra, yaitu Simbolon, Tamba, Saragi, Munte, dan Nahampun.Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antarsesama marga keturunan Nai Ambaton.Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut:1. Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.2. Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin.3. Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit.4. Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.5. Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat.NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak:Raja MardopangMenurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.Raja MangaturMenurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus.NAI SUANON (tuan sorbadibanua)Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Ttuan Sorbadibanua.Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.Dari istri pertama (putri Sariburaja):1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.2. Si Paet Tua.3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.4. Si Raja Oloan.5. Si Raja Huta Lima.Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :a. Si Raja Sumba.b. Si Raja Sobu.c. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat.Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.Keturunan Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Tampubolon, Barimbing, Silaen.2. Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution.3. Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi.4. Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Hutahaean, Hutajulu, Aruan.2. Sibarani, Sibuea, Sarumpaet.3. Pangaribuan, Hutapea.Keturunan si lahi sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Sihaloho.2. Situngkir, Sipangkar, Sipayung.3. Sirumasondi, Rumasingap, Depari.4. Sidabutar.5. Sidabariba, Solia.6. Sidebang, Boliala.7. Pintubatu, Sigiro.8. Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa.2. Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga.3. Bangkara.4. Sinambela, Dairi.5. Sihite, Sileang.6. Simanullang.Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Maha.2. Sambo.3. Pardosi, Sembiring Meliala.Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro.2. Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Sitompul.2. Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan.2. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.(Marbun marpadan dohot Sihotang, Banjar Nahor tu Manalu, Lumban Batu tu Purba, jala Lumban Gaol tu Debata Raja. Asing sian i, Toga Marbun dohot si Toga Sipaholon marpadan do tong) ima pomparan ni Naipospos, Marbun dohot Sipaholon. Termasuk do marga meha ima anak ni Ompu Toga sian Lumban Gaol Sianggasana.***DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga).Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut:“Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan”artinya:“Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang);Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji”Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:1. Marbun dengan Sihotang2. Panjaitan dengan Manullang3. Tampubolon dengan Sitompul.4. Sitorus dengan Hutajulu - Hutahaean - Aruan.5. Nahampun dengan Situmorang.
Bangsa Yang besar adalah bangsa yang melestarikan Kebudayaan.Berikut merupakan Silsilah/Tarombo Batak yang mungkin terlupakan seiring masuknya Budaya asing ke Bangsa Indonesia.SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:1. Guru Tatea Bulan2. Raja IsombaonGURU TATEA BULANDari istrinya yang bernama Si Boru Baso Bburning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :* Putra (sesuai urutan):1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)*Putri:1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).Tatea Bulan artinya “Tertayang Bulan” = “Tertatang Bulan”. Raja Isombaon (Raja Isumbaon)Raja Isombaon artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Bbatak dapat dibagi atas 2 golongan besar:1. Golongan Ttatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung.2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba.Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.PENJABARAN* RAJA UTIRaja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual etap berpusat pada Raja Uti.* SARIBURAJASariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu peremuan satunya lagi laki-laki).Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi “istrinya” di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si raja babiat. Di kemudian hari Si raja babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.SI RAJA LONTUNGPutra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu:* Putra:1.. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.2. Sinaga raja, keturunannya bermarga Sinaga.3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.4. Toga nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.* Putri :1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora.Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu.Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.SINAGADari Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu.PANDIANGANLahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja.NAINGGOLANLahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.SIMATUPANGLahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.ARITONANGLahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.SIREGARLlahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.* SI RAJA BORBORPutra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor.Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :1. Datu Dalu (Sahangmaima).2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.6. Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang.Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut :1. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat.2. Tinendang, Tangkar.3. Matondang.4. Saruksuk.5. Tarihoran.6. Parapat.7. Rangkuti.Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.Limbong Mulana dan marga-marga keturunannyaLimbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.SAGALA RAJAPutra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.SILAU RAJASilau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu:1. Malau2. Manik3. Ambarita4. GurningKhusus sejarah atau tarombo Ambarita Raja atau Ambarita, memiliki dua putra:I. Ambarita Lumban PeaII. Ambarita Lumban PiningLumban Pea memiliki dua anak laki-laki1. Ompu Mangomborlan2. Ompu Bona NihutaBerhubung Ompu Mangomborlan tidak memiliki anak/keturunan laki-laki, maka Ambarita paling sulung hingga kini adalah turunan Ompu Bona Nihuta, yang memiliki anak laki-laki tunggal yakni Op Suhut Ni Huta. Op Suhut Nihuta juga memiliki anak laki-laki tunggal Op Tondolnihuta.Keturunan Op Tondol Nihuta ada empat laki-laki:1. Op Martua Boni Raja (atau Op Mamontang Laut)2. Op Raja Marihot3. Op Marhajang4. Op Rajani UmbulSelanjutnya di bawah ini hanya dapat meneruskan tarombo dari Op Mamontang Laut (karena keterbatasan data. Op Mamontang Laut menyeberang dari Ambarita di Kabupaten Toba Samosir saat ini ke Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Hingga tahun 2008 ini, keturunan Op Mamontang laut sudah generasi kedelapan).Op Mamontang Laut semula menikahi Boru Sinaga, dari Parapat. Setelah sekian tahun berumah tangga, mereka tidka dikaruniai keturunan, lalu kemudian menikah lagi pada boru Sitio dari Simanindo, Samosir.Dari perkawinan kedua, lahir tiga anak laki-laki1. Op Sohailoan menikahi Boru Sinaga bermukim di Sihaporas Aek BatuKeturunan Op Sohailoan saat ini antara lain Op Josep (Pak Beluana di Palembang)2. Op Jaipul menikahi Boru Sinaga bermukin di Sihaporas BolonKeturunan antara lain J ambarita Bekasi, dan saya sendiri (www.domu-ambarita.blogspot.com atau domuambarita@yahoo.com)3. Op Sugara atau Op Ni Ujung Barita menikahi Boru Sirait bermukim di Motung, Kabupaten Toba Samosir.Keturunan Op Sugara antara lain penyanyi Iran Ambarita dan Godman AmbaritaTUAN SORIMANGARAJATuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.c. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon).Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon)Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya.Nai Ambaton mempunyai empat orang putra, yaitu:1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon.2. Tamba Ttua, keturunannya bermarga Tamba.3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W. Hutagalung):SIMBOLONLahir marga-marga Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi.TAMBALahir marga-marga Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabolak, Rumahorbo, Napitu.SARAGILahir marga-marga Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke.MUNTELahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging.Keterangan lain mengatakan bahwa Nai Ambaton mempunyai dua orang putra, yaitu Simbolon Tua dan Sigalingging. Simbolon Tua mempunyai lima orang putra, yaitu Simbolon, Tamba, Saragi, Munte, dan Nahampun.Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antarsesama marga keturunan Nai Ambaton.Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut:1. Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.2. Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin.3. Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit.4. Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.5. Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat.NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak:Raja MardopangMenurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.Raja MangaturMenurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus.NAI SUANON (tuan sorbadibanua)Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Ttuan Sorbadibanua.Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.Dari istri pertama (putri Sariburaja):1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.2. Si Paet Tua.3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.4. Si Raja Oloan.5. Si Raja Huta Lima.Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :a. Si Raja Sumba.b. Si Raja Sobu.c. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat.Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.Keturunan Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Tampubolon, Barimbing, Silaen.2. Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution.3. Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi.4. Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Hutahaean, Hutajulu, Aruan.2. Sibarani, Sibuea, Sarumpaet.3. Pangaribuan, Hutapea.Keturunan si lahi sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Sihaloho.2. Situngkir, Sipangkar, Sipayung.3. Sirumasondi, Rumasingap, Depari.4. Sidabutar.5. Sidabariba, Solia.6. Sidebang, Boliala.7. Pintubatu, Sigiro.8. Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa.2. Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga.3. Bangkara.4. Sinambela, Dairi.5. Sihite, Sileang.6. Simanullang.Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Maha.2. Sambo.3. Pardosi, Sembiring Meliala.Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro.2. Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Sitompul.2. Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut:1. Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan.2. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.(Marbun marpadan dohot Sihotang, Banjar Nahor tu Manalu, Lumban Batu tu Purba, jala Lumban Gaol tu Debata Raja. Asing sian i, Toga Marbun dohot si Toga Sipaholon marpadan do tong) ima pomparan ni Naipospos, Marbun dohot Sipaholon. Termasuk do marga meha ima anak ni Ompu Toga sian Lumban Gaol Sianggasana.***DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga).Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut:“Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan”artinya:“Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang);Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji”Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:1. Marbun dengan Sihotang2. Panjaitan dengan Manullang3. Tampubolon dengan Sitompul.4. Sitorus dengan Hutajulu - Hutahaean - Aruan.5. Nahampun dengan Situmorang.
“Buku Parsada Borsak Sirumonggur Sihombing Lumbantoruan”
Lumbantoruan merupakan salah satu marga dari suku Batak, diwarisi oleh semua yang bermarga Lumbantoruan, baik lelaki maupun wanita dari garis keturunan Bapak secara turun-temurun. Lumbantoruan yang pertama bergelar BORSAK SIRUMONGGUR, merupakan anak kedua dari Sihombing yang mempunyai 4 orang anaklaki-laki dengan urutan sebagai berikut:
Borsak Junjungan gelar Silaban
Borsak Sirumonggur gelar Lumbantoruan
Borsak Mangatasi gelar Nababan
Borsak Bimbinan gelar Hutasoit.
Marga yang diwarisi oleh keturunan masing-masing adalah Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit. Keempat gelar tersebut sering dipakai sebagai nama perkumpulan marga oleh keturunan yang bersangkutan di perantauan, atau sebagai nama nenek moyang dari marga yang bersangkutan. Misalnya marga Lumbantoruan, pomparan (keturunan) dari Borsak Sorumonggur.
Perlu dicatat bahwa mayoritas orang yang bermarga Lumbantoruan memakai marga Sihombing, sedangkan yang bermarga Silaban, Nababan, dan Hutasoit hanya sedikit yang memakaimarga Sihombing.
Mengingat keturunan dari masing-masing marga telah banyak jumlahnya, maka sejak puluhan tahun yang lalu telah disepakati oleh keturunan dari empat bersaudara: Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit untuk boleh saling mengawini. Artinya,lelaki dari masing-masing marga ini boleh mengawini perempuan marga lainnya dari kelompok empat marga yang bersaudara tersebut. Persetujuan nikah tersebut di dalam upacara tastas bombong.
MENGAPA MARGA ITU PERLU?
Sejak dulu Orang Batak telah mempunyai marga. Marga memegang peranan dalam adat istiadat, budaya, pergaulan, dan kehidupan sosial di lingkungan masyarakat Batak, khususnya dalam rangka melaksanakan falsafah Dalihan na Tolu. Selama- orang masih mengaku dirinya sebagai Orang Batak ia akan tetap memerlukan marganya di dalam penyelenggaraan adat istiadat, budaya, dan tata krama pergaulan di dalam masyarakat, sekalipun ia hidup di perantauan.
Selain itu, marga yang diwarisi secara turun temurun itu dapat berfungsi sebagai family name, yang umumnya pada banyak bangsa di dunia ini diwariskan kepada keturunannya. J adi, marga itu –umpanya Lumbantoruan– dapat berfungsi sebagai salah satu identitas.
SEJAK KAPAN MARGA LUMBANTORUAN ITU ADA?
Di dalam kehidupan sosial dan pergaulan Orang Batak, masing-masing orang yang semarga perlu mengetahui silsilah dan nomor silsilah masing-masing. Kenapa silsilah perlu diketahui adalah untuk membedakan teman semarga yang kita hadapi itu apakah merupakan haha doli (abang) atau anggi doli (adik). Sedangkan gunanya mengetahui nomor silsilah adalah agar kita mengetahui apakah teman semarga yang kita hadapi itu termasuk golongan Bapak, Kakek, Anak, atau Cucu.
Nomor silsilah nenek moyang kita, Borsak Sorumonggur adalah nomor 1. Nomor silsilah anaknya adalah nomor 2, sedangkan cucunya adalah nomor 3, demikian seterusnya. Apabila seorang memiliki silsilah bemomor 15, maka ia akan menyebut marga Lumbantoruan bemomor silsilah 14 sebagai Bapak dan yang bemomor silsilah 16 sebagai Anak.
Dengan memperhatikan nomor silsilah bermarga Lumbantoruan di Jabodetabek, nomor silsilah generasi Lumbantoruan yang hidup sekarang bervariasi, mulai dari nomor 14 sampai dengan nomor 19. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa marga Lumbantoruan sudah ada sejak sekita 3 - 4 abad yang silam.
DI MANAKAH TEMPAT BERMUKIM MARGA LUMBANTORUAN?
Semula, Sihombing bermukim di Pulau Samosir. Mungkin untuk memperoleh ruang hidup yang lebih baru dan lebih baik ia bersama keempat anaknya: SHaban, Lumbantoruan,
Nababan, dan Hutasoit pindah ke Tipang, seberang Danau Toba. Tipang terletak di pantai, selatan Danau Toba, pada tanah pesisir yang sempit, dikelilingi perbukitan yang cukup, tinggi di sebelah selatan, tidak jauh dari Bakara –tempat pemukiman Raja Sisingamangaraja.
Keluarga Sihombing beserta anak-anaknya cepat berlipat ganda di Tipang, hal yang membuat lahan persawahan dan pertanian yang terasa kurang. Oleh sebab itu, sebagian
keturunan Sihombing bermigrasi (pindah) ke dataran tinggi, atau disebut juga Humbang, Semula, keturunan Lumbantoruan mendirikan kampung dekat Lintongnihuta, namanya, Sipagabu. Dari Sipagabu inilah secara bertahap keturunan Lumbantoruan berpencar dii daerah Humbang, yaitu:
Lintongnihuta dan sekitarnya
Bahalbatu dan sekitarnya
Sibaragas dan sekitarnya
Sipultak dan sekitarnya
Butar dan sekitarnya.
Di tiga daerah pertama bermukim keturunan Hutagurgur Lumbantoruan, anak sulung Lumbantoruan. Di Butar dan sekitarnya bermukim keturunan Toga Hariara Lumbantoruan, anak kedua (bungsu) dari Lumbantoruan. Di keempat daerah tersebut marga Lumbantoruan merupakan mayoritas ketimbang marga-mara yang lain. Selain di empat daerah itu, keturunan Lumbantoruan juga berbaur dengan Silaban, Nababan, dll
Hutasoit di luar Humbang, persisnya di sekitar Pahae yang berbatasan dengan Angkola. Di Tipang sendiri sampai sekarang masih tinggal bermukim sekelompok Lumbantoruan keturunan Mambirjalang, dalam hal ini Pareme dan Nasorasabat.
Perlu juga diketahui tempat pemukiman ketiga marga keturunan Sihombing (Silaban, Nababan, dan Hutasoit) di Humbang, yaitu:
Silaban di Silabanrura, Butar
Nababan di Nagasaribu, Lumban Tonga-tonga Paniaran, Sipariama, dan Lumban Motung dan sekitarnya.
Hutasoit di Siborong-borong, Butar, Lintongnihuta, dan sekitarnya.
Untuk beberapa abad, persawahan dan pertanian di tempat pemukiman Lumbantoruan masih terasa cukup. Akan tetapi, seiring dengan percepatan pertumbuhan keturunan Lumbantoruan yang cepat berlipat ganda, persawahan dan pertanian pun semakin terbatas. Sejak itulah keluarga-keluarga Lumbantoruan bermigrasi ke tempat lain. Pada masa Perang Kemerdekaan, perpindahan keluarga-keluarga Lumbantoruan makin meningkat ke daerah Sumatera Timur. Secara bertahap hingga sekarang keluarga-keluarga Lumbantoruan (terlebih generasi mudanya) banyak yang pindah ke tempat lain, tersebar hingga ke kota-kota besar dan pulau-pulau lainnya.
Akibatnya sekarang, banyak kampung di Humbang, daerah asal Lumbantoruan, mayoritas penduduknya adalah orang-orang yang sudah tua. Banyak para pemuda meninggalkan kampung halamannya untuk sekolah atau untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Di Jakarta, mereka mempunyai Parsadaan (perkumpulan) yang diberi nama Parsadaan Borsak Sirumonggur Sihombing Lumbantoruan Dohot Boru & Bere Se?Jabotabekdep dan sekitarnya.
SIAPAKAH YANG BERMARGA LUMBANTORUAN?
Yang bermarga Lumbantoruan adalah :
Pada dasarnya semua orang, lelaki dan wanita, yang mewarisi marga tersebut melalui garis bapaknya.
Semua perempuan non-Batak yang sudah diberi (diampehon) marga boru Lumbantoruan melalui proses adat atas permintaanya sendiri dan (calon) suaminya. Suaminya adalah bere dari salah satu keluarga Lumbontoruan, atau anak atau keturunanya dari saudara perempuannya.
Semua lelaki non-Lumbantoruan yang diadopsi oleh salah satu keluarga Lumbantoruan.
BAGAIMANA PEREMPUAN ATAU LELAKI NON-LUMBANTORUAN BISA MENJADI LUMBANTORUAN?
Seperti dikemukakan di atas sudah makin banyak keluarga Lumbantoruan yang berdomisili jauh dari daerah asal nenek moyangnya. Dalam situasi yang demikian perkawinan antar suku, bahkan antar bangsa tak terhindarkan. Oleh Sebab itu sudah makin banyak pemuda Lumbantoruan yang menikah dengan perempuan dari suku non-Batak.
Demikian pula para bere dari Lumbantoruan, yaitu anak atau keturunan dari ibu (boru) Lumbantoruan. Dalam hal ini banyak bere dari Lumbantoruan, yang bersama calon isterinya memohon kepada keluarga Lumbantoruan terdekat untuk memberi (mangampehon) marga kepada sang (calon) isteri tersebut . Dengan demikian praktis keluarga Lumbontoruan tersebut “harus” mengadopsi perempuan non-Batak dimaksud menjadi anaknya putrinya atas restu ketiga unsur marga sesuai dalihan na tolu.
Dengan pemberian marga itu, maka :
Bere itu mempunyai Hula-hula
Anaknya mempunyai Tulang
Cucunya mempunyai Bona Tulang
Anak cucunya mempuyai Bona ni Ari
Hal yang sama bisa terjadi pada lelaki non-Lumbantoruan, bisa menyandang marga Lumbantoruan melalui proses memberi (mangampehon) marga atas permintaan pihak
keluarga (calon) isteri lelaki dari suku non-Batak tersebut. Hanya memang, peristiwa ini sangat jarang, karena prosedumya lebih ketat dan memerlukan pertimbangan yang lebih matang. Dengan demikian terjamin hak dan kewajibannya dalam adat istiadat orang Batak sampai tiga keturunan.
Lumbantoruan merupakan salah satu marga dari suku Batak, diwarisi oleh semua yang bermarga Lumbantoruan, baik lelaki maupun wanita dari garis keturunan Bapak secara turun-temurun. Lumbantoruan yang pertama bergelar BORSAK SIRUMONGGUR, merupakan anak kedua dari Sihombing yang mempunyai 4 orang anaklaki-laki dengan urutan sebagai berikut:
Borsak Junjungan gelar Silaban
Borsak Sirumonggur gelar Lumbantoruan
Borsak Mangatasi gelar Nababan
Borsak Bimbinan gelar Hutasoit.
Marga yang diwarisi oleh keturunan masing-masing adalah Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit. Keempat gelar tersebut sering dipakai sebagai nama perkumpulan marga oleh keturunan yang bersangkutan di perantauan, atau sebagai nama nenek moyang dari marga yang bersangkutan. Misalnya marga Lumbantoruan, pomparan (keturunan) dari Borsak Sorumonggur.
Perlu dicatat bahwa mayoritas orang yang bermarga Lumbantoruan memakai marga Sihombing, sedangkan yang bermarga Silaban, Nababan, dan Hutasoit hanya sedikit yang memakaimarga Sihombing.
Mengingat keturunan dari masing-masing marga telah banyak jumlahnya, maka sejak puluhan tahun yang lalu telah disepakati oleh keturunan dari empat bersaudara: Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit untuk boleh saling mengawini. Artinya,lelaki dari masing-masing marga ini boleh mengawini perempuan marga lainnya dari kelompok empat marga yang bersaudara tersebut. Persetujuan nikah tersebut di dalam upacara tastas bombong.
MENGAPA MARGA ITU PERLU?
Sejak dulu Orang Batak telah mempunyai marga. Marga memegang peranan dalam adat istiadat, budaya, pergaulan, dan kehidupan sosial di lingkungan masyarakat Batak, khususnya dalam rangka melaksanakan falsafah Dalihan na Tolu. Selama- orang masih mengaku dirinya sebagai Orang Batak ia akan tetap memerlukan marganya di dalam penyelenggaraan adat istiadat, budaya, dan tata krama pergaulan di dalam masyarakat, sekalipun ia hidup di perantauan.
Selain itu, marga yang diwarisi secara turun temurun itu dapat berfungsi sebagai family name, yang umumnya pada banyak bangsa di dunia ini diwariskan kepada keturunannya. J adi, marga itu –umpanya Lumbantoruan– dapat berfungsi sebagai salah satu identitas.
SEJAK KAPAN MARGA LUMBANTORUAN ITU ADA?
Di dalam kehidupan sosial dan pergaulan Orang Batak, masing-masing orang yang semarga perlu mengetahui silsilah dan nomor silsilah masing-masing. Kenapa silsilah perlu diketahui adalah untuk membedakan teman semarga yang kita hadapi itu apakah merupakan haha doli (abang) atau anggi doli (adik). Sedangkan gunanya mengetahui nomor silsilah adalah agar kita mengetahui apakah teman semarga yang kita hadapi itu termasuk golongan Bapak, Kakek, Anak, atau Cucu.
Nomor silsilah nenek moyang kita, Borsak Sorumonggur adalah nomor 1. Nomor silsilah anaknya adalah nomor 2, sedangkan cucunya adalah nomor 3, demikian seterusnya. Apabila seorang memiliki silsilah bemomor 15, maka ia akan menyebut marga Lumbantoruan bemomor silsilah 14 sebagai Bapak dan yang bemomor silsilah 16 sebagai Anak.
Dengan memperhatikan nomor silsilah bermarga Lumbantoruan di Jabodetabek, nomor silsilah generasi Lumbantoruan yang hidup sekarang bervariasi, mulai dari nomor 14 sampai dengan nomor 19. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa marga Lumbantoruan sudah ada sejak sekita 3 - 4 abad yang silam.
DI MANAKAH TEMPAT BERMUKIM MARGA LUMBANTORUAN?
Semula, Sihombing bermukim di Pulau Samosir. Mungkin untuk memperoleh ruang hidup yang lebih baru dan lebih baik ia bersama keempat anaknya: SHaban, Lumbantoruan,
Nababan, dan Hutasoit pindah ke Tipang, seberang Danau Toba. Tipang terletak di pantai, selatan Danau Toba, pada tanah pesisir yang sempit, dikelilingi perbukitan yang cukup, tinggi di sebelah selatan, tidak jauh dari Bakara –tempat pemukiman Raja Sisingamangaraja.
Keluarga Sihombing beserta anak-anaknya cepat berlipat ganda di Tipang, hal yang membuat lahan persawahan dan pertanian yang terasa kurang. Oleh sebab itu, sebagian
keturunan Sihombing bermigrasi (pindah) ke dataran tinggi, atau disebut juga Humbang, Semula, keturunan Lumbantoruan mendirikan kampung dekat Lintongnihuta, namanya, Sipagabu. Dari Sipagabu inilah secara bertahap keturunan Lumbantoruan berpencar dii daerah Humbang, yaitu:
Lintongnihuta dan sekitarnya
Bahalbatu dan sekitarnya
Sibaragas dan sekitarnya
Sipultak dan sekitarnya
Butar dan sekitarnya.
Di tiga daerah pertama bermukim keturunan Hutagurgur Lumbantoruan, anak sulung Lumbantoruan. Di Butar dan sekitarnya bermukim keturunan Toga Hariara Lumbantoruan, anak kedua (bungsu) dari Lumbantoruan. Di keempat daerah tersebut marga Lumbantoruan merupakan mayoritas ketimbang marga-mara yang lain. Selain di empat daerah itu, keturunan Lumbantoruan juga berbaur dengan Silaban, Nababan, dll
Hutasoit di luar Humbang, persisnya di sekitar Pahae yang berbatasan dengan Angkola. Di Tipang sendiri sampai sekarang masih tinggal bermukim sekelompok Lumbantoruan keturunan Mambirjalang, dalam hal ini Pareme dan Nasorasabat.
Perlu juga diketahui tempat pemukiman ketiga marga keturunan Sihombing (Silaban, Nababan, dan Hutasoit) di Humbang, yaitu:
Silaban di Silabanrura, Butar
Nababan di Nagasaribu, Lumban Tonga-tonga Paniaran, Sipariama, dan Lumban Motung dan sekitarnya.
Hutasoit di Siborong-borong, Butar, Lintongnihuta, dan sekitarnya.
Untuk beberapa abad, persawahan dan pertanian di tempat pemukiman Lumbantoruan masih terasa cukup. Akan tetapi, seiring dengan percepatan pertumbuhan keturunan Lumbantoruan yang cepat berlipat ganda, persawahan dan pertanian pun semakin terbatas. Sejak itulah keluarga-keluarga Lumbantoruan bermigrasi ke tempat lain. Pada masa Perang Kemerdekaan, perpindahan keluarga-keluarga Lumbantoruan makin meningkat ke daerah Sumatera Timur. Secara bertahap hingga sekarang keluarga-keluarga Lumbantoruan (terlebih generasi mudanya) banyak yang pindah ke tempat lain, tersebar hingga ke kota-kota besar dan pulau-pulau lainnya.
Akibatnya sekarang, banyak kampung di Humbang, daerah asal Lumbantoruan, mayoritas penduduknya adalah orang-orang yang sudah tua. Banyak para pemuda meninggalkan kampung halamannya untuk sekolah atau untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Di Jakarta, mereka mempunyai Parsadaan (perkumpulan) yang diberi nama Parsadaan Borsak Sirumonggur Sihombing Lumbantoruan Dohot Boru & Bere Se?Jabotabekdep dan sekitarnya.
SIAPAKAH YANG BERMARGA LUMBANTORUAN?
Yang bermarga Lumbantoruan adalah :
Pada dasarnya semua orang, lelaki dan wanita, yang mewarisi marga tersebut melalui garis bapaknya.
Semua perempuan non-Batak yang sudah diberi (diampehon) marga boru Lumbantoruan melalui proses adat atas permintaanya sendiri dan (calon) suaminya. Suaminya adalah bere dari salah satu keluarga Lumbontoruan, atau anak atau keturunanya dari saudara perempuannya.
Semua lelaki non-Lumbantoruan yang diadopsi oleh salah satu keluarga Lumbantoruan.
BAGAIMANA PEREMPUAN ATAU LELAKI NON-LUMBANTORUAN BISA MENJADI LUMBANTORUAN?
Seperti dikemukakan di atas sudah makin banyak keluarga Lumbantoruan yang berdomisili jauh dari daerah asal nenek moyangnya. Dalam situasi yang demikian perkawinan antar suku, bahkan antar bangsa tak terhindarkan. Oleh Sebab itu sudah makin banyak pemuda Lumbantoruan yang menikah dengan perempuan dari suku non-Batak.
Demikian pula para bere dari Lumbantoruan, yaitu anak atau keturunan dari ibu (boru) Lumbantoruan. Dalam hal ini banyak bere dari Lumbantoruan, yang bersama calon isterinya memohon kepada keluarga Lumbantoruan terdekat untuk memberi (mangampehon) marga kepada sang (calon) isteri tersebut . Dengan demikian praktis keluarga Lumbontoruan tersebut “harus” mengadopsi perempuan non-Batak dimaksud menjadi anaknya putrinya atas restu ketiga unsur marga sesuai dalihan na tolu.
Dengan pemberian marga itu, maka :
Bere itu mempunyai Hula-hula
Anaknya mempunyai Tulang
Cucunya mempunyai Bona Tulang
Anak cucunya mempuyai Bona ni Ari
Hal yang sama bisa terjadi pada lelaki non-Lumbantoruan, bisa menyandang marga Lumbantoruan melalui proses memberi (mangampehon) marga atas permintaan pihak
keluarga (calon) isteri lelaki dari suku non-Batak tersebut. Hanya memang, peristiwa ini sangat jarang, karena prosedumya lebih ketat dan memerlukan pertimbangan yang lebih matang. Dengan demikian terjamin hak dan kewajibannya dalam adat istiadat orang Batak sampai tiga keturunan.
Langganan:
Postingan (Atom)
my lord
with my teacher
About Me
- 3LS@ GOO @RCHUL3TA
- ^_^ "Setiap anak harus diajarkan untuk mencintai budayanya sendiri sehingga membangun rasa percaya diri dan kebanggaan akan diri sendiri"